Impian England untuk melangkah ke babak final Piala Dunia kembali kandas secara tragis di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. The Three Lions sebenarnya hanya terpaut lima menit dari waktu normal untuk mengunci tiket final pada Rabu malam, sebelum akhirnya performa mereka runtuh sepenuhnya. Berdasarkan jalannya laga, kehancuran skuad asuhan Thomas Tuchel ini sejatinya sudah mulai terendus jauh sebelum menit ke-85.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi, babak pertama semifinal berjalan sangat ketat, gugup, dan minim peluang bersih. Laga pembuka tersebut hanya menghasilkan kombinasi xG sebesar 0.07 namun diwarnai oleh 19 pelanggaran. Pemain Argentina, Giuliano Simeone, yang melakoni starter pertamanya di fase gugur, tampak mengemban misi personal untuk merusak ritme permainan England dengan duel-duel fisik yang intens.
Memasuki babak kedua, atmosfer pertandingan berubah drastis setelah England sukses mencetak gol lewat peluang nyata pertama mereka. Anthony Gordon berhasil memanfaatkan kelengahan Nicolás Tagliafico di tiang jauh untuk menyontek umpan silang matang dari Morgan Rogers. Gol tersebut sempat membangkitkan asa pendukung England, namun sekaligus menjadi titik balik yang membangunkan raksasa Amerika Selatan.
Setelah gol Gordon, Argentina langsung mendominasi total sisa 40 menit jalannya pertandingan dengan gelombang serangan yang dipimpin oleh Lionel Messi. Pemain berusia 39 tahun tersebut tampil luar biasa sebagai motor serangan utama dengan mencatatkan 94 sentuhan, menciptakan 4 peluang, serta menyelesaikan 10 dribel sukses sepanjang laga.
Pengamatan tim redaksi menilai bahwa gol penyeimbang dari Enzo Fernández yang menembus gawang Jordan Pickford hanyalah masalah waktu. Pickford sendiri sebenarnya tampil gemilang di bawah mistar dengan melakukan dua penyelamatan kelas dunia, setelah sebelumnya sepakan Alexis Mac Allister membentur tiang dan sundulan Nicolás González menyamping tipis.
Keputusan taktis Thomas Tuchel pasca-unggul menjadi sorotan tajam setelah ia menarik keluar Anthony Gordon dan memasukkan bek Ezri Konsa pada menit ke-70. Tidak lama berselang, Tuchel kembali mempertebal lini pertahanan dengan memasukkan Dan Burn dan Nico O'Reilly. Taktik bertahan total ini justru membuat Harry Kane terisolasi di depan tanpa adanya target man yang mampu menahan bola.
Statistik mencatat penurunan performa England yang sangat mencengangkan untuk level semifinal Piala Dunia. Di antara menit ke-66 hingga ke-84, England hanya mampu melepaskan dua operan akurat. Lebih parah lagi, dari menit ke-67 hingga ke-92, penguasaan bola Harry Kane dan kawan-kawan merosot tajam hingga hanya menyisakan 7.5 persen.
Menurut Thomas Tuchel, keputusan beralih ke formasi lima bek diambil karena celah di lini pertahanan timnya sudah terlalu terbuka. "Anda bisa mendiskusikan hal ini dengan sejuta pelatih lain, tetapi saya harus mengambil keputusan di lapangan. Saya menganalisis pertandingan dan melakukannya dengan cara tertentu, jadi itu tanggung jawab saya. Saat ini, tidak ada penyesalan," ujar Tuchel dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan.
Kekalahan ini memperpanjang rekor buruk England yang gagal mempertahankan keunggulan di laga krusial, serupa dengan semifinal Piala Dunia 2018 dan final Euro 2020. England kini menjadi satu-satunya negara di abad ke-21 yang mencetak gol lebih dulu di semifinal Piala Dunia namun gagal memenangkan pertandingan, mengulang memori kelam delapan tahun lalu saat bersua Croatia di Rusia.
Kekecewaan mendalam juga disuarakan oleh para pemain di ruang ganti. Bek Marc Guéhi meluapkan penyesalannya kepada BBC dengan mengatakan, "Kami seharusnya bisa terus menekan." Sementara itu, kapten Harry Kane juga mengkritik pendekatan timnya, "Setelah kami unggul 1-0, kami tampaknya hanya mencoba bertahan, yang mana di level seperti ini hal itu jelas tidak cukup. Saya sangat hancur."
Dengan hasil ini, Argentina berhak melaju ke partai puncak Piala Dunia, sedangkan England harus puas menghadapi Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga di Miami pada hari Sabtu nanti. Kekalahan ini memaksa publik sepak bola England kembali menahan sabar demi menyudahi puasa gelar mayor yang kini telah resmi membentang lebih dari 60 tahun.