Bandar Bola Bandar Bola
/home / internasional / Piala Dunia 2026: Eberechi Eze...
INTERNASIONAL

Piala Dunia 2026: Eberechi Eze Takkan Ubah Gaya Penalti

Eberechi Eze menegaskan tetap mempertahankan teknik penalti uniknya menjelang Piala Dunia 2026

Eberechi Eze menegaskan tetap mempertahankan teknik penalti uniknya menjelang Piala Dunia 2026

Pemain tengah tim nasional England, Eberechi Eze, telah menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tidak akan meninggalkan gaya khas lari terbata-bata ("stuttered run-up") saat mengambil tendangan penalti. Dari pantauan redaksi, keputusannya ini tetap bulat meski dirinya baru saja merasakan kepedihan akibat gagal mengeksekusi penalti dalam laga krusial final Champions League bersama Arsenal. Sang playmaker kini fokus menatap turnamen akbar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Utara.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, Eze mengonfirmasi keengganannya untuk mengubah teknik unik tersebut musim panas ini, terlepas dari kegagalannya dalam adu penalti bertekanan tinggi melawan Paris Saint-Germain di Budapest. Pemain berusia 27 tahun itu masuk dalam daftar 26 pemain skuad asuhan Thomas Tuchel yang mengemban misi besar untuk mengakhiri puasa gelar internasional England selama 60 tahun.

Menurut pengakuan Eze, kegagalan di masa lalu tidak akan membuatnya patah arang atau mengubah metode yang sudah lama ia gunakan. "Tidak, saya pikir saya telah mengambil penalti untuk waktu yang lama dan itu adalah bagian dari perjalanan," jelas Eze saat dimintai keterangan mengenai kegagalan tersebut. "Anda harus terus berkembang, menemukan cara baru untuk maju. Saya tidak akan terlalu stres memikirkannya karena saya tahu saya berada di posisi ini karena suatu alasan dan berkat semua latihan di baliknya."

Tim Tiga Singa memang memiliki sejarah yang rumit dan traumatis terkait adu penalti di turnamen besar. Namun, hasil observasi tim redaksi menunjukkan bahwa mentalitas Eze sama sekali tidak goyah dan siap maju ke titik putih jika situasi tersebut kembali terjadi di fase gugur yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, atau Kanada. "Jika dipanggil, tentu saja. Mengapa saya tidak mengambilnya?" cetus Eze dengan penuh percaya diri.

Untuk mengatasi tekanan mental, Eze mengaku telah mencari masukan dan belajar dari rekan setimnya, Bukayo Saka dan Marcus Rashford, yang juga pernah mengalami kekecewaan serupa pada final Euro 2020. Menurutnya, pengalaman pahit tersebut sangat penting untuk pertumbuhan karier. "Semua pemain besar pernah gagal dalam penalti penting, pernah mengalami momen seperti ini. Bagi saya ini bukan sesuatu yang saya sesali. Saya bersyukur itu terjadi karena saya akan tumbuh dan belajar darinya," tambah penyerang Arsenal tersebut.

Meskipun final Champions League berakhir dengan kekecewaan, Eze tiba di kamp pelatihan England dengan kepala tegak setelah membantu Arsenal meraih gelar Premier League pertama mereka sejak tahun 2004. Pengamat sepak bola menilai bahwa budaya menang di dalam skuad Thomas Tuchel, yang diisi oleh para pemain sukses di level klub musim ini, akan menjadi faktor pembeda yang krusial dalam kampanye mereka di Piala Dunia 2026.

// TOPICS
#eberechi_eze #england #piala_dunia_2026 #arsenal #thomas_tuchel #sepak_bola_internasional
European Football Correspondent

Sarah brings a continental perspective to English football. Having lived in Spain, Germany, and Italy, she understands the tactical nuances that distinguish each league. Now based in London, she covers how Premier League clubs compete on the European stage, with a particular focus on transfers, Champions League analysis, and the global football market.