Setelah kompetisi sengit selama 38 hari, gelaran akbar World Cup akhirnya mencapai puncaknya dengan menyajikan laga final ideal antara Spain melawan Argentina. Pertandingan yang sejak awal digadang-gadang sebagai panggung pembuktian antara Lamine Yamal melawan Lionel Messi, persaingan generasi muda melawan senior, justru berakhir di luar dugaan banyak pihak.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan jalannya laga, duel megah ini justru ditentukan oleh Ferran Torres, penyerang berusia 26 tahun yang tidak masuk dalam narasi rivalitas utama tersebut. Gol tunggalnya berhasil membawa La Roja keluar sebagai kampiun baru, sekaligus memupus harapan La Albiceleste untuk mempertahankan gelar juara dunia mereka.
Dari pantauan redaksi, Lamine Yamal yang digadang-gadang bakal menjadi pembeda hanya mampu bermain di pinggir alur permainan utama sepanjang laga. Penampilannya dinilai cukup baik, tetapi belum mencapai level impresif yang biasa ia tunjukkan di level klub maupun laga-laga krusial sebelumnya.
Menurut statistik pertandingan, hal yang paling mengejutkan adalah performa Lionel Messi yang gagal menunjukkan magisnya. Sang kapten dan jimat keberuntungan Argentina tersebut tercatat hanya mampu melepaskan satu tembakan selama 120 menit laga berjalan, di mana sepakannya justru mengenai wajah gelandang Spain, Mikel Merino.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan betapa tumpulnya lini serang Argentina dalam laga yang berjalan dengan tensi sedang ini. Skuad asuhan Lionel Scaloni hanya mampu melepaskan dua tembakan sepanjang pertandingan, yang membuat penjaga gawang Spain, Unai Simón, sama sekali tidak perlu melakukan satu pun penyelamatan berarti hingga peluit panjang dibunyikan.