Konflik UEFA dan FIFA memanas setelah badan sepak bola Eropa tersebut bersiap melayangkan tuntutan pidana terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino ke pengadilan Swiss. Langkah hukum ini diambil menyusul kontroversi terkait rencana penjualan hak komersial masa depan Piala Dunia kepada investor swasta asal Amerika Serikat.
Berdasarkan dokumen hukum setebal 56 halaman yang diajukan ke pengadilan Manhattan, tim kuasa hukum UEFA menilai ada indikasi kuat pelanggaran terkait pengelolaan keuangan. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa proyek penjualan saham kepada dana investasi Thrive Capital Management berpotensi merugikan aset organisasi.
RELATED STORIES
Berlangganan Berita Bola & Basket Terbaru
Dapatkan update pertandingan, hasil skor, transfer pemain, dan analisis Liga Inggris, Spanyol, Jerman, NBA & Internasional langsung di inbox Anda. Konten eksklusif dan gratis untuk penggemar olahraga!
SUBSCRIBEMeskipun rencana kontroversial tersebut akhirnya dibatalkan oleh pihak FIFA menyusul gelombang protes keras, hubungan antara kedua lembaga tetap berada di titik nadir. Perwakilan dari 55 federasi sepak bola Eropa menilai kepercayaan kepemimpinan telah sepenuhnya rusak akibat kebijakan tersebut.
Sebagai bentuk respons lanjutan, UEFA memutuskan mencabut ancaman boikot terhadap turnamen internasional namun tetap melanjutkan investigasi menyeluruh. Mereka menuntut reformasi tata kelola yang transparan agar lembaga sepak bola dunia tidak dikendalikan oleh kepentingan personal.
Tuntutan Reformasi Total di Tubuh FIFA
Pertemuan petinggi federasi Eropa di Monaco menegaskan perlunya perubahan mendasar dalam struktur kepemimpinan dan pengambilan keputusan di dalam tubuh FIFA. Mereka sepakat bahwa otoritas presiden harus dibatasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
"Kepercayaan penting yang dibutuhkan untuk posisi kepemimpinan tertinggi telah hancur dan tidak dapat dipulihkan hanya lewat pembatalan sebuah proposal semata," tulis pernyataan resmi perwakilan UEFA.
Selain menuntut transparansi, federasi-federasi di bawah naungan UEFA juga menyatakan siap menggalang kekuatan bersama konfederasi lain untuk mencari alternatif kepemimpinan baru. Langkah ini diambil demi memastikan integritas serta masa depan ekosistem sepak bola global tetap terjaga.
Perseteruan tingkat tinggi ini diprediksi masih akan terus berlanjut seiring dengan proses investigasi hukum yang mulai digulirkan oleh para penasihat hukum di pengadilan internasional.